Selasa, 27 Desember 2011

Khidmad Manakib, Desember 1999

HIKMAH DI BALIK BULAN SYA’BAN 
Oleh : KH. M. Zein ZA. Bazul Asyhab 

Bulan sya’ban disebut juga dalam bahasa Sunda atau bahasa Jawa adalah bulan Ruwah. Kenapa disebut bulan Ruwah ? Mungkin berasal dari kata ruh (terdiri dari huruf Ra, Wawu, dan ha), jadi maksudnya bulan Sya’ban adalah bulan pembersihan ruh atau mungkin juga berasal dari kata Rauh yang berarti gembira, jadi maksudnya adalah bulan gembira.

Kata Sya’ban terdiri dari lima huruf yaitu :Syin, A’in, Ba’, Alif, dan Nun.


  • Huruf Pertama adalah Syin diartikan dengan mustak lafadz syuhudul Robby, jadi dengan Sya’ban marilah kita tingkatkan musyahadah kepada Alloh atau muqobalah dengan Alloh atau juga selalu merasa dekat dengan Alloh. Alatnya alhamdulillah sudah kita miliki bersama yaitu kalimat ikhlas “Laa Ilaaha Illalloh”. Dan dzikir Khafi yang harus terus menerus dilakukan (non stop).
  • Huruf kedua adalah ‘Ain yang berasal dari Afwalloh yang berarti ampunan Alloh yang harus kita kejar. Dengan belajar dzikir pun berarti kita sedang belajar bertaubat untuk mendapatkan ampunan Alloh.
  • Huruf Ketiga adalah Ba. Berasal dari kata birrulloh yang artinya kebaikan Alloh, yang juga harus kita kejar. Alloh telah banyak berbuat baik untuk kita, tetapi kita malah banyak berbuat tidak baik kepaa-Nya. Contohnya, jika kita berdo’a kita selalu minta umur panjang, rizki yang banyak, anak yang shaleh dan lain-lain, tetapi kita sendiri tidak mengutamakan Alloh. Bahkan umat Islam di dunia ini lebih sering menempatkan Alloh kira-kira pada peringkat yang keenam dalam hidupnya. Yang dipikirkannya adalah makan, rumah, peralatan rumah tangga, hiburan, kendaraan barulah kemudian Alloh. Buktinya kita masih disibukkan dengan urusan duniawi daripada beribadah di mesjid misalnya I’tikaf, mengutamakan shalat fardhu berjamaah awal waktu. Padahal mesjid di Indonesia banyak sekali tetapi sedikit yang mengisinya.
  • Huruf keempat adalah Alif, yang berasal dari iffatulloh maksudnya menyatukan hati. Sedangkan yang mampu menyatukan hati manusia hanyalah Alloh. Sehingga jika terdapat perbedaan-perbedaan yang sulit untuk dipersatukan, maka hendaklah urusan tersebut dikembalikan kepada Alloh. Disisi Alloh tidak ada perbedaan-perbedaan. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya untuk menuju kepada Alloh? Jawabnya tentu dengan dzikrulloh yang ditalqinkan oleh Guru Mursyid.
  • Huruf Kelima adalah Nun, yang berasal dari kata nurullah yang berarti cahaya Alloh. Cahaya ini pun harus kita dapatkan dengan menggunakan alatnya yaitu dzikrulloh.

Dalam kitab Miftahush-Shudur halaman 17 disebutkan bahwa tidak satu manusia pun di bumi ini yang tidak didampingi syetan oleh Alloh. Belum diketahui berapa jumlah syetan yang ditugaskan untuk menggoda satu manusia. Mungkin hanya bisa dijawab banyak. Dengan argument bahwa syetan itu dilahirkan terus-menerus tanpa ada yang mati. Sedangkan manusia walaupun banyak yang dilahirkan tetapi banyak pula yang kemudian meninggal. Sepatutnya kita bersyukur dengan adanya syetan yang selalu menggoda. Karena dengan demikian manusia itu memiliki musuh. Ketika dia mampu mengalahkan godaan syetan dan mampu melaksanakan perintah Alloh dan menjauhi larangan-Nya maka Alloh akan memberikannya pahala sebagai hadiah atas keberhasilannya mengalahkan godaan syetan. 

Terus–menerus kita berjuang melawan godaan syetan, jika kita terus memenangkan pertandingan ini maka kitalah Sang Juara. Kalau saja manusia mensyukuri akan keberadaan syetan ini dalam menggoda manusia, maka sangat mungkin syetan itu menjadi lebih takut kepada kita, karena kita telah mengetahui rahasia syetan. Dan dengan dzikrulloh itulah kita bisa membentengi diri dari gangguannya. Karena Rasulullah bersabda : “Laa Ilaaha Illalloh adalah benteng-Ku, barang siapa mengucapkannya maka ia telah memasukinya. Dan barang siapa yang telah memasuki benteng-Ku, maka selamatlah ia dari siksa-Ku.” Dengan demikian jelaslah bahwa dzikrulloh bukan aliran melainkan benteng Alloh.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More